Beranda > Artikel > Apa Saja Gejala Malaria pada Anak?

Apa Saja Gejala Malaria pada Anak?

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium, ditularkan melalui gigitan nyamuk betina Anopheles, dan bersifat mengancam nyawa, namun dapat dicegah maupun diobati. Hingga tahun 2019, diestimasikan terdapat 229 juta kasus malaria di seluruh dunia, dengan jumlah estimasi kematian akibat malaria sebesar 409.000 jiwa. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah kasus malaria yang tinggi, yaitu sebanyak 250.644 kasus hingga tahun 2019, dengan persentase terbesar di Papua, dan diikuti oleh Nusa Tenggara Timur. Malaria lebih sering terjadi pada anak – anak di bawah usia 5 tahun.

Gejala utama Malaria

Gejala utama malaria ialah demam yang biasanya muncul setelah 10-15 hari sejak gigitan nyamuk. Gejala awal berupa demam, sakit kepala, mual dan muntah, nyeri perut, nyeri otot, lemah, dan menggigil. Gejala ini dapat bersifat ringan sehingga sulit dikenali. Malaria memiliki pola demam yang khas yaitu diawali dengan menggigil dan demam tinggi, kemudian berekeringat dan akhirnya kembali ke suhu tubuh normal. Beberapa tipe parasit malaria memiliki pola siklus yang berbeda, yaitu 3 hari sekali (malaria tertiana) atau 4 hari sekali (malaria kuartana).

Pada area dengan transmisi malaria yang tinggi, imunitas terhadap penyakit ini sudah didapat sejak kanak – kanak. Karena itu penyakit ini menjadi berat pada anak – anak yang tidak mendapatkan imunitas malaria. Pada kasus berat, dapat terjadi anemia, hipoglikemia, dan malaria serebral.

Diagnosis dan pencegahannya

Untuk mengetahui diagnosis malaria, dokter akan menanyakan riwayat bepergian, terutama daerah dengan kasus malaria yang tinggi, kemudian melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan darah. Pemeriksaan apusan darah akan diperiksa menggunakan mikroskop dan pemeriksaan ini merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis malaria. Selain itu, malaria juga dapat dideteksi dengan pemeriksaan RDT (Rapid Diagnostic Test) antigen.

Anda dapat mencegah malaria dengan menggunakan pakaian tertutup, terutama bila Anda sedang bepergian ke daerah tinggi malaria. Kemudian gunakanlah krim maupun spray anti nyamuk, serta tidur dengan lapisan net atau jaring agar terlindung dari gigitan nyamuk. Malaria dapat diobati dengan obat anti-malaria. Obat – obatan ini akan disesuaikan dengan jenis parasit penyebab malaria dan tingkat keparahan penyakit. Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak apabila anak Anda terinfeksi, dan dapat juga berkonsultasi pada dokter penyakit dalam.

  • Patient Care & Health Information, Disease & Conditions, Malaria. (2018, December 13). Retrieved from Mayoclinic: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/malaria/symptoms-causes/syc-20351184
  • Lauren M.Cohee, M. K. (2018). Malaria in Children. NCBI, 851-866.
  • Malaria. (2018, January 26). Retrieved from World Health Organization: https://www.who.int/malaria/areas/high_risk_groups/children/en/
  • Malaria. (2020, November 30). Retrieved from World Health Organization: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malaria

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :