Beranda > Artikel > Mengenal Apa Itu Disfagia, Penyebabnya, serta Cara Mengatasinya

Mengenal Apa Itu Disfagia, Penyebabnya, serta Cara Mengatasinya

disfagia adalah

Apa itu Disfagia?

Disfagia adalah gangguan dalam proses menelan yang di alami seseorang. Proses menelan sendiri terbagi dalam 3 fase, yaitu:

  • Fase oral: saat makanan masuk ke dalam mulut, dikunyah dan terbentuk bolus (gumpalan makanan).
  • Fase orofaringeal: proses saat makanan mulai masuk ke dalam kerongkongan, di saat langit-langit menutup jalur nasofaring (dari hidung ke tenggorokan) dan epiglotis menutup jalur ke trakea (tenggorokan) agar makanan tidak masuk ke jalan napas.
  • Fase esofageal: makanan sampai di esofagus (kerongkongan) dan cincin esofagus terbuka sehingga bolus sampai ke lambung.

 

Apa Saja Penyebab Disfagia?

Disfagia dikelompokkan menjadi 2 kategori berdasarkan letak gangguan yang ditimbulkan:

1. Disfagia orofaringeal

Merupakan kondisi dimana seseorang mengalami kesulitan dalam memulai proses menelan. Disfagia jenis ini disebabkan oleh gangguan atau kerusakan pada otot atau syaraf di sekitar kerongkongan. Kondisi ini menyebabkan otot menjadi lemah sehingga orang tersebut tidak dapat menelan dengan baik. Ciri utama disfagia orofaringeal adalah mudah tersedak saat makan.

Penyebab disfagia orofaringeal antara lain:

  • Gangguan sistem syaraf seperti sklerosis multipel, distrofi otot, dan parkinson.
  • Kerusakan sistem syaraf seperti stroke atau gangguan sumsum tulang belakang (spinal cord injury).
  • Divertikulum zenker, yaitu adanya kantong yang terbentuk di sekitar kerongkongan, sehingga makanan dapat menumpuk dan meyebabkan gangguan menelan, suara seperti berkumur, bau mulut,, dan sering bersendawa atau batuk.
  • Kanker. Beberapa jenis kanker dan pengobatannya (seperti radiasi) juga dapat menyebabkan disfagia.

 

2. Disfagia esofageal

Disfagia esofageal merupakan disfagia yang disebabkan gangguan gerakan makanan yang masuk ke dalam kerongkongan. Beberapa penyebab disfagia esofageal adalah:

  • Striktur esofagus, yaitu esofagus yang menyempit dan berhubungan dengan tingginya refluks (kembalinya) asam lambung pada 10% penderita GERD (gastro-esophageal reflux disease).
  • Keganasan esofagus, yaitu tumor yang menutup kerongkongan.
  • Akalasia, merupakan suatu kondisi dimana otot cincin (sphincter) esofagus tidak dapat relaks saat akan dilewati makanan sehingga makanan tidak dapat diteruskan ke lambung. Disfagia karena akalasia semakin dicurigai apabila seseorang juga sulit atau bahkan tidak dapat menelan cairan.
  • Benda asing yang menyumbat kerongkongan. Tidak sengaja tertelan makanan padat atau tidak dikunyah dengan baik, dapat menyebabkan sumbatan di esofagus. Hal ini tidak jarang dialamai penderita demensia (pikun).
  • Esofagitis eosinofilik, yaitu suatu reaksi alergi akibat makanan atau zat tertentu sehingga menyebabkan tumpukan sel eosinofil (alergi) di esofagus.

 

Gejala yang ditimbulkan akibat disfagia tergantung dari letak kelainan tersebut, apakah dalam kelompok disfagia orofaringeal atau esofageal. Namun secara umum gejala yang dapat timbul antara lain:

  • Sulit atau tidak dapat menelan
  • Drooling (air liur keluar terus menerus)
  • Nyeri saat menelan
  • Mudah tersedak/batuk saat makan/minum
  • Sensasi makanan yang seperti ‘tersangkut’ di leher
  • Muntah
  • Rasa terbakar di dada
  • Suara serak (parau)
  • Berat badan menurun

 

Bagaimana Disfagia Didiagnosis?

Selain gejala dan tanda yang dapat diamati, beberapa pemeriksaan diperlukan untuk menentukan jenis disfagia sehingga dpat diobati dengan baik, yaitu:

1. Barium x-ray

Pemeriksaan ini dilakukan dengan meminum cairan barium kemudian difoto seperti rontgen (x-ray) pada umumnya. Apabila ada penyempitan di esofagus akan tampak pada hasil foto. Pemeriksaan ini juga dapat dipadukan dengan fluoroskopi, untuk melihat proses menelan.

2. Endoskopi

Pemeriksaan dilakukan dengan memasukan selang kecil dengan kamera di ujung untuk melihat kondisi esofagus secara langsung.

3. CT-scan atau MRI

Pemeriksaan imaging dapat dilakukan untuk mengetahui adanya tumor atau sumbatan di esofagus dan sekitarnya.

 

Bagaimana mengatasi disfagia?

Pengobatan disfagia harus disesuaikan dengan penyebabnya. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Melatih proses menelan dengan benar, seperti duduk saat menelan, tidak makan sambil tiduran. Pada gangguan syaraf dapat dilakukan fisioterapi.
  2. Modifikasi gaya hidup, khususnya apabila disfagia disebabkan refluks asam lambung (GERD) dengan menjauhi makanan penyebabnya (pedas, terlalu asam) dan makan secara teratur. Termasuk menghindari makanan penyebab alergi.
  3. Obat-obatan. Apabila disfagia disebabkan gangguan asam lambung makan dapat diberikan obat-obatan untuk mengurangi produksinya dan menetralisasi asam berlebih. Apabila disebabkan spasme atau otot yang kaku dapat diberikan pelemas otot.
  4. Operasi. Tindakan operasi terutama diperlukan untuk disfagia yang disebabkan gangguan mekanik seperti sumbatan benda asing atau tumor. Tindakan dapat dilakukan dengan melebarkan esofagus dengan balon (ballooning) atau pemasangan stent.
  5. Pada kasus yang ekstrim, diperlukan pemasangan sonde untuk pemberian nutrisi.

Baca juga: Bau Mulut Dapat Disebabkan Penyakit Lain, Apa Sajakah?

 

Referensi

Kahn, A. (2020, August 13). What Causes Difficulty in Swallowing? Healthline. https://www.healthline.com/health/difficulty-in-swallowing

Mayo Clinic. (2021, October 20). Dysphagia. Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dysphagia/symptoms-causes/syc-20372028

Roth, E. (2018, September 28). Difficulty Swallowing (Dysphagia) Due to Acid Reflux. Healthline. https://www.healthline.com/health/gerd/dysphagia

Triggs, J., & Pandolfino, J. (2019). Recent advances in dysphagia management. F1000Research, 8. https://doi.org/10.12688/f1000research.18900.1

WGO. (2014). Dysphagia Global Guidelines & Cascades. In World Gastroenterology Organisation. WGO.

Bagikan ke orang terdekat anda

We will contact you shortly

Thank you for contacting the Carevo team, our team will

immediately contact you with related topics