Beranda > Artikel > Bahaya Minyak Jelantah yang Harus Dihindari

Bahaya Minyak Jelantah yang Harus Dihindari

Minyak jelantah merupakan sebutan bagi minyak yang sudah bekas pakai atau limbah sisa minyak goreng dari kegiatan menggoreng makanan. Semua jenis minyak yang dapat digunakan untuk menggoreng makanan dapat dikategorikan menjadi minyak jelantah setelah dipakai untuk menggoreng. Harga minyak jelantah tergolong lebih murah dibandingkan minyak goreng lainnya. Mengingat harga salah satu kebutuhan utama memasak ini semakin lama semakin melambung, banyak orang menggunakan minyak jelantah sebagai bahan utama untuk menggoreng makanan lainnya. Namun, ternyata minyak jelantah mengandung zat-zat yang berbahaya bagi tubuh! Setelah proses penggorengan, komposisi dari minyak goreng akan terurai dan zat-zat ini dapat memicu timbulnya bahaya sebagai berikut:

Karsinogenik

Zat-zat yang terurai dari hasil penggorengan minyak dapat menimbulkan kerusakan sel yang mengarah ke pembentukkan sel kanker, atau biasa disebut sebagai karsinogenesis. Semakin sering minyak dipakai untuk menggoreng, maka semakin tinggi tingkat karsinogenesis karena zat yang terurai akan semakin banyak. Selain itu, sisa-sisa hasil penggorengan makanan sebelumnya juga tidak dapat hilang dengan sempurna meskipun sudah disaring. Penumpukkan sisa-sisa hasil penggorengan ini akan menjadi hangus dan menjadi zat karsinogenik tambahan setiap kali minyak dipakai kembali.

Gangguan pencernaan

Minyak jelantah cenderung lebih mudah busuk dibandingkan minyak goreng baru yang sifat zatnya masih utuh. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan karena mengandung bakteri serta zat-zat lainnya yang tidak dapat dicerna dalam tubuh. Anda dapat mengetahui bahwa minyak tersebut sudah tidak layak pakai melalui warna dan baunya. Warna minyak yang sudah tidak layak pakai umumnya kecoklatan, atau bahkan hitam, serta berbau tengik. Tekstur minyak umumnya lebih kental serta tampak lebih keruh.

Membuat makanan semakin berminyak

Pada dasarnya minyak memiliki sifat yang tidak dapat bercampur dengan air yang lazim disebut sebagai hidrofobik. Setelah mencapai titik didih dalam proses pengorenggan, zat-zat dalam minyak yang terurai membuat sifat hidrofobik minyak menjadi lebih lemah. Hal tersebut membuat minyak lebih mudah terserap dalam makanan sehingga makanan akan mengandung minyak lebih banyak.

Membuat makanan lebih cepat hangus

Minyak yang digunakan berulang juga dapat menyebabkan turunnya titik asap. Titik asap yang menurun membuat minyak lebih mudah panas dan membuat makanan jadi lebih mudah hangus.

Meningkatkan kadar kolestrol

Minyak yang telah terurai di suhu tinggi mengubah lemak yang terkandung didalamnya menjadi lemak trans atau lemak jahat. Lemak jahat ini dapat meningkatkan kadar kolestrol dalam darah serta dapat menyebabkan peningkatan resiko penyakit jantung, stroke, dan lain sebagainya.

Meningkatkan tekanan darah

Proses penggorengan dengan minyak jelantah menyebabkan reaksi kimia seperti hidrolisis, oksidasi, dan polimerisasi. Reaksi tersebut mengubah komposisi kimia pada minyak sehingga minyak melepaskan lebih banyak asam lemak, radikal bebas, monogliserida, digliserida, dan trigliserida. Zat-zat kimia serta reaksi kimia tersebut bila dikonsumsi dapat merusak pembuluh darah Anda dan lambat laun menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Merusak sel liver

Liver merupakan organ yang berfungsi untuk menetralisir racun dalam tubuh kita. Tingkat radikal bebas serta lemak yang tinggi pada penggunaan minyak jelantah dapat menyebabkan kerusakan pada sel liver dan lambat laun dapat menyebabkan penyakit liver yang berbahaya.

Penuaan dini

Minyak jelantah dapat merusak nutrisi pada makanan yang Anda yang berguna untuk regenerasi tubuh. Kandungan lemak yang lebih tinggi pada makanan yang digoreng dengan minyak jelantah juga dapat mengganggu regenerasi tubuh Anda. Selain itu, radikal bebas yang banyak terkandung dalam minyak jelantah dapat menyebabkan tubuh kita berusaha lebih keras untuk membuang racun-racun tersebut dan berpengaruh pada penuaan dini.

 

Referensi

  • Aakash Varma , Kamlesh Singh, A. (2017). How Does Heat or Frying Process Affect Deterioration of Various Edible Oils in Indian Cooking Conditions and How the Composition of Oils Lead to Peroxide Formation?. International Journal Of Applied, Physical And Bio-Chemistry Research7(5), 13-30.
  • Ngozi Jane, M. (2019). Effects of Vegetable Oil Reused for Frying on the Liver of Albino Rats. Science Journal Of Chemistry7(1), 11. https://doi.org/10.11648/j.sjc.20190701.12

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :