Beranda > Artikel > Sleep Apnea: Gejala, Penyebab, Cara Mencegah, dan Cara Mengobatinya

Sleep Apnea: Gejala, Penyebab, Cara Mencegah, dan Cara Mengobatinya

gejala penyebab cara mengobati sleep apnea adalah

Selain diet sehat dan olahraga teratur, kualitas tidur merupakan faktor penting untuk kesehatan Anda. Sleep Apnea, salah satu jenis gangguan tidur, berkaitan dengan risiko meningkatnya kesehatan jantung dan pembuluh darah serta kesehatan metabolik. Sleep Apnea sering tidak terdiagnosis dan bahkan diabaikan, padahal masalah ini merupakan gangguan yang sering terjadi.

 

Apa itu Penyakit Sleep Apnea? 

Sleep Apnea adalah gangguan tidur yang ditandai dengan pernapasa abnormal saat tidur. Gangguan ini menyebabkan berkurangnya kualitas tidur, dan apabila dibiarkan tanpa ditangani, akan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan. Seseoang yang mengalami Sleep Apnea akan mengalami pengurangan atau henti napas dalam waktu singkat saat mereka tidur secara berulang kali. Meskipun  

Sleep Apnea sering terjadi, namun sering tidak terdeteksi, karena sebagian besar orang yang sedang tidur tidak menyadari ketika mereka mengalami gejala Sleep Apnea. Meskipun terkadang gangguan ini menyebabkan seseorang terbangun dan akhirnya mengurangi kualitas tidurnya, terkadang seseorang juga tidak terbangun dan tetap tertidur meskipun pernapasan mereka tidak normal. 

Baca juga: Cara Menghilangkan Insomnia dengan Tepat

 

Personal Health Record Carevo

 

Jenis Penyakit Sleep Apnea

Berdasarkan penyebabnya, Sleep Apnea dibagi menjadi: 

1. Obstructive Sleep Apnea (OSA) 

OSA terjadi ketika jalur napas dibagian tenggorokan mennyempir atau terhambat selama tidur, sehingga menyebabkan seseorang mengorok, karena udara dihambar untuk melewati jalur normalnya. Akibat hambatan tersebut, seseorang menjadi terbangun, mengatur kembalu otot di tenggorokan mereka, dan mengambil beberapa napas dalam, yang sering disertai dengan suara seperti tersedak. OSA merupakan jenis Sleep Apnea yang paling sering terjadi. 

2. Central Sleep Apnea (CSA) 

CSA merupakan gangguan komunikasi antara orak dan otot – otot yang mengatur pernapasan. Akibatnya, proses bernapa menjadi lebih dalam dan mengalami beberapa penghentian sementara. CSA lebih jarang dialami dibandingkan dengan OSA. 

 

Gejala Penyakit Sleep Apnea 

Gejala Sleep Apnea terjadi akibat pernapasan abnormal di malam hari dan juga efek di siang hari akibat berkurangnya kualitas tidur. 

1. Gejala OSA 

  1. Rasa kantuk berlebihan di siang hari 

  1. Suara mengorok yang keras yang seringkali disertai oleh suara tersedak 

  1. Rasa sakit kepala di pagi hari yang dapat berlangsung selama beberpaa jam setelah bangun tidur 

  1. Mulut kering saat bangun tidur 

  1. Kurangnya tidur disertai periode terbangun semalaman 

  1. Meningkatnya keinginan untuk buang air kecil saat sedang tidur 

  1. Gampang marah dan kesal 

  1. Berkurangnya fokus 

2. Gejala CSA 

  1. Pola napas yang tidak normal, misalnya napas menjadi pelan, kemudian menjadi cepat, dan terkadang berhenti bernapas sesaat saat sedang tidur 

  1. Rasa kantuk berlebihan di siang hari 

  1. Sering terbangun di malam hari 

  1. Rasa sesak maupun nyeri dada tiba –  tiba di malam hari 

  1. Sulit untuk fokus 

  1. Sakit kepala di pagi hari 

Baca juga: Gejala Susah Tidur

 

Penyebab Sleep Apnea 

Penyebab gangguan napas antara OSA dan CSA berbeda. Pada orang dengan OSA, otot di tenggorokan akan relaksasi selama tidur, menyebabkan ruang untuk masuknnya udara menjadi berkurang. Suara mengorok terjadi karena saluran udara yang menyempir, dan ketika salulran tersebut terhambat, seseorang kekurangan oksigen. Kurangnya oksigen menyebabkan terbangun yang parsial ataupun terbangun penuh untuk mengembalikan aliran udara tersebut. Gangguan bernapas ini terjadi beberpaka kali selama tidur. Sedangkan CSA terjadi alibat adanya gangguan komunikasi antara orak dan otot – otot yang mnegatur pernapasan. Pada orang dengan CSA, batang otak gagal untuk mendeteksi kadar CO2 did alam tubuh selama tidur. Akibatnya, terjadi epidose bernapas yang lebih lambat dan dalam daripada seharusnya. 

Faktor risiko utama OSA berkaitan dengan usia, jenis kelamin, berat badan, dan anatomi kepala serta leher. 

1. Usia 

Risiko seseorang mengalami OSA meningkat seiring bertambahnya usia, hingga seseorang berumur 60 – 70 tahun. 

2. Jenis Kelamin 

Laki – laki lebih sering mengalami OSA dibandingkan perempuan, terutama pada usia dewasa muda. 

3. Anatomi Kepala dan Leher 

OSA lebih sering terjadi pada orang dengan anatomi kepala dan leher spesifik, yaitu orang yang memiliki lidah le bih besar dan rahang bawah yang lebih pendek. 

4. Berat Badan 

Beberapa penelitian menemukan adanya korelasi antara IMT (Indeks Massa Tubuh) yang tinggi dan meningkatnya risiko seseorang mengalami OSA. 

5. Merokok 

Beberapa penelitian menyebitkan bahwa OSA terjadi lebih sering pada seseorang yang merokok dibandingkan dengan yang tidak merokok.

6. Abnormalitas Hormon 

Kondisi hormon misalnya pada seseorang dengan tiroid yang kurang aktif, dan orang engan produksi growth hormone berlebih dapat meningkatkan risiko OSA, dengan cara menyebabkan pembengkakan pada jaringan dekat pernapasan, atau dengan menyebabkan meningkatnya IMT. 

7. Posisi Tidur 

Sleep Apnea dapat bertambah parah bila seseorang tidur dengan posisi tengkurap, karena posisi tengkurap memperngaruhi bentuk dan posisi jaringan di sekitar jalur napas. 

8. Riwayat Keluarga denngan Sleep Apnea 

Terdapat beberapa pendapat bahwa riwayat keluarga yang pernah mengalami OSA dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami OSA. Hal ini berkaitan dengan anatomi kepala serta leher pada anggota keluarga. 

9. Nasal Congestion 

Adanya hambatan pada rongga hidung dapat menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami OSA.

10. Konsumsi Alkohol dan Obat – Obatan tertentu 

Alkohol dan obat narkotika tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami OSA.

11. Kondisi Kesehatan Tertentu 

Orang – orang dengan riwayat penyakit tertentu, misalnya ada gangguan di paru – paru dan jantung, dapat lebih berisiko mengalami OSA.

Baca juga: 5 Fungsi Hormon Melatonin untuk Kebutuhan Tidur

 

Cara Mengobati Sleep Apnea 

Tujuan penatalaksanaan Sleep Apnea adalah untuk mengurangi gangguan bernapas dan meningkatkan kualitas tidur. Pendeketan tatalaksana Sleep Apnea berbeda antara OSA dan CSA. 

1. Penanganan OSA 

Terapi Positive Airway Pressure (PAP) merupakan penanganan yang ditawarkan pada hampir semua orang dengan OSA. PAP akan membuka jalan napas dengan pemberiaj tekanan udara yang dipompa melalui mesin, melalui selang dan masker yang dipakai di wajah.  

Selain PAP, dapat juga menggunakan mouthpiece yang menjaga rahang bawah ataupun lidah agar tetap pada posisinya. Penanganan ini sering diberikan pada orang dengan anatomi kepala dan leher tertentu. Penanganan ini tidak meningkatkan pernapasan sebaik PAP, namun dapat mengurangi mengorok, dan sering dipilih oleh orang – orang yang tidak nyaman menggunakan PAP. 

Pilihan terapi lain merupakan operasi untuk membuang jaringan di tenggorokan dengan tujuan memperluas jalur masuknya udara. Penanganan ini dilakukan pada pasien yang memiliki gangguan jalur napas akibat jaringan.  

Komponen lain dalam menangani OSA adalah dengan perubahan gaya hidup untuk mengurangi gejala, yaitu: 

  1. Mengurangi berat badan untuk menurunkan IMT 

  1. Berolahraga secara tertatur, dengan tujuan mengurangi berat badan 

  1. Mengganti posisi tidur lebih sering, dan menghindari posisi tidur tengkurap 

  1. Mengurangi konsumsi alkohol 

2. Penanganan CSA 

Penanganan pada CSA terdokus pada masalah medis yang menyebabkan napas abnormal. Bila gangguan tidur tergolong ringan, mengatasi penyebab merupakan penanganan yang dibutuhkan. Namun bila gejala CSA persisen dan berat, dibutuhkan penanganan lain untuk meningkatkan napas. Misalnya dengan menggunakan PAP, dan menggunakan supplemental oxygen therapy atrau menggunakan obat – obatan yang meningkatkan kecepatan laju napas.

Baca juga: 7 Makanan Yang Mengandung Melatonin untuk Kebutuhan Tidur

 

Penulis : dr. Madelina Serenita

 

Selalu jaga kesehatan anda, dan catat gejalanya dengan Aplikasi Personal Health Record dari Carevo.

 

Referensi

Sleep Apnea. (2020, July 28). Retrieved from Mayo Clinic: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sleep-apnea/symptoms-causes/ 

Benisek, A. (2021, September 7). Sleep Apnea. Retrieved from Web MD: https://www.webmd.com/sleep-disorders/sleep-apnea/sleep-apnea 

SLEEP APNEA. (2022, March 24). Retrieved from NIH: https://www.nhlbi.nih.gov/health/sleep-apnea 

Sleep Apnea. (2022, July 8). Retrieved from Sleep Foundation: https://www.sleepfoundation.org/sleep-apnea 

The Dangers of Uncontrolled Sleep Apnea. (n.d.). Retrieved from Johns Hopkins Medicine: https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/the-dangers-of-uncontrolled-sleep-apnea 

Bagikan ke orang terdekat anda

We will contact you shortly

Thank you for contacting the Carevo team, our team will

immediately contact you with related topics