Beranda > Artikel > Hati-hati, Kenali Bahaya Kol Goreng Untuk Kesehatan

Hati-hati, Kenali Bahaya Kol Goreng Untuk Kesehatan

Kol, atau sayur yang biasa disebut sebagai kubis, merupakan sayur yang kaya akan vitamin C. Sayur ini merupakan salah satu makanan wajib bagi mereka yang suka makan lalapan, pecel, dan lain sebagainyanya. Olahan kol yang nikmat berikutnya salah satunya adalah dengan digoreng. Namun, ternyata kol yang mempunyai banyak manfaat tersebut bisa berubah menjadi membahayakan bila di goreng loh! Berikut beberapa bahaya kol goreng untuk kesehatan Anda:

Karsinogenik

Banyak penelitian yang mengemukakan kemampuan kol dalam mencegah sel kita dari toksin, serta menghambat pertumbuhan sel kanker dan peradangan. Sayur ini juga dapat mencegah pengembangan dan penyebaran sel kanker. Namun, zat-zat yang terurai dari hasil penggorengan kol justu dapat menimbulkan efek sebaliknya. Kol goreng dapat menimbulkan kerusakan sel yang mengarah ke pembentukkan sel kanker, atau biasa disebut sebagai karsinogenik. Bentuk lembar daun kol yang tipis juga menyebabkan sayur ini mudah hangus dalam proses penggorengan dan menambah kadar karsinogeniknya!

Berinteraksi dengan obat

Kol mengandung kadar vitamin K yang tinggi. Vitamin ini dapat membantu pembekuan darah dalam tubuh. Mengkonsumsi terlalu banyak kol dapat menimbulkan bahaya terutama bagi Anda yang mengkonsumsi obat pengencer darah atau mempunyai kelainan pengentalan darah. Jumlah vitamin K yang direkomendasikan oleh para ahli di Universitas Maryland Medical Center ialah 120 microgram untuk pira dan 90 microgram unutk wanita. Dimana 1 porsi kol hijau (70 gram) mengandung 53 microgram vitamin K, sedangkan dengan porsi yang sama kol merah mengandung 34 microgram.

Meningkatkan kadar kolestrol

Minyak yang telah terurai di suhu tinggi mengubah lemak yang terkandung didalamnya menjadi lemak trans atau lemak jahat. Sayur kol umumnya cenderung menyerap banyak lemak dalam proses penggorengan. Lemak jahat ini dapat meningkatkan kadar kolestrol dalam darah serta dapat menyebabkan peningkatan resiko penyakit jantung, stroke, dan lain sebagainya.

Meningkatkan tekanan darah

Proses penggorengan kol menyebabkan reaksi kimia seperti hidrolisis, oksidasi, dan polimerisasi. Reaksi tersebut mengubah komposisi kimia pada makanan sehingga makanan lebih banyak asam lemak, radikal bebas, monogliserida, digliserida, dan trigliserida. Zat-zat kimia serta reaksi kimia tersebut bila dikonsumsi dapat merusak pembuluh darah Anda dan lambat laun menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Gangguan pencernaan

Kol mengandung banyak zat riffinose, yang merupakan bagian dari gula yang tidak bisa dicerna oleh tubuh. Zat ini akan melewati sistem pencernaan Anda tanpa dapat diproses sehingga menyebabkan perut kembung. Minyak yang terkandung dalam kol goreng juga menambah kesulitan saluran cerna Anda untuk menguraikan zat-zat pada sayur ini dan memicu timbulnya diare.

Setelah melihat bahaya kol goreng diatas, bukan berarti Anda tidak boleh makan kol sama sekali ya! Pada dasarnya sayur kol sebenarnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan bila diolah dengan baik. Berikut beberapa cara mengolah kol dengan aman:

Makan kol dalam keadaan mentah atau setengah matang

Nutrisi-nutrisi baik dalam kol dapat tetap terjaga bila dimakan dalam keadaan mentah atau setengah matang. Bila ingin digoreng atau di tumis, lakukanlah dengan api kecil dan minyak yang sedikit. Pastikan pula Anda selesai menggoreng sebelum sayur layu dan tampak lebih transparan.

Pastikan potongan kol Anda cukup besar

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sayur ini memiliki daun  yang tipis sehingga cenderung lebih mudah hangus atau menjadi terlalu matang bila di olah. Pastikan anda memotongnya dengan ukuran yang besar (> 1cm per potong) agar tidak mudah hangus!

 

Referensi

  • Pantuck EJ, Pantuck CB, Anderson KE, et al. Effect of brussels sprouts and cabbage on drug conjugation. Clin Pharmacol Ther 1984;35:161-9.
  • Rokayya S, Li CJ, Zhao Y, Li Y, Sun CH. Cabbage (Brassica oleracea L. var. capitate) phytochemicals with antioxidant and anti-inflammatory potential. Asian Pac J Cancer Prev 2014;14(11):6657-62.

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :