Beranda > Artikel > Kenali Perbedaan Anak Hiperaktif dan Anak ADHD

Kenali Perbedaan Anak Hiperaktif dan Anak ADHD

anak hiperaktif

Tidak jarang kita melihat anak-anak berlari kesana kemari, bermain kejar-kejaran atau petak umpet dengan teman seusianya. Hal ini wajar karena bermain bersama orang lain merupakan tahapan perkembangan penting dalam fase tumbuh kembang anak-anak. 

Orang tua pun tentunya bahagia melihat anaknya tampak aktif bermain, selayaknya anak-anak usia sebayanya. Namun terkadang ada juga orang tua yang mengeluhkan aktivitas anaknya terlalu berlebihan, kondisi yang seringkali disebut sebagai hiperaktif. Banyak orang tua yang merasa khawatir dengan kondisi hiperaktif ini, bisa jadi karena mereka pernah mendengar gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, atau yang lebih dikenal dengan istilah ADHD, pada anak. Meskipun begitu tidak banyak orang tua yang tahu bahwa sebenarnya hiperaktif dan ADHD merupakan dua kondisi yang berbeda. 

Apakah yang dimaksud dengan Hiperaktif?

Kondisi Hiperaktif sebenarnya sulit untuk didefinisikan secara pasti, karena seseorang mendapatkan label hiperaktif atas pengamatan dari orang disekitarnya. Meskipun begitu terdapat ciri-ciri dan karakteristik tertentu yang membantu untuk mengidentifikasi kondisi hiperaktif, terutama apabila perilaku anak mengganggu aktivitas di sekolah dan mengganggu interaksi sosial dengan temannya. 

Anak yang hiperaktif biasanya menunjukkan peningkatan aktivitas motorik dan kecenderungan untuk melakukan tindakan impulsif, ditandai dengan keinginan untuk bergerak maupun berbicara terus menerus tanpa memperhatikan situasi dan kondisi saat itu. Beberapa contoh perilaku yang menunjukkan kecurigaan ke kondisi hiperaktif adalah:

  • Berteriak dan berlari meskipun sedang bermain di dalam ruangan atau saat berada di tempat yang seharusnya sunyi (seperti perpustakaan).
  • Merubah-rubah posisi duduk dan berjalan kesana kemari di tengah kelas saat gurus masih menjelaskan
  • Menjawab pertanyan yang belum selesai diucapkan oleh guru
  • Menyerobot antrian karena tidak sabar menunggu giliran

Kondisi hiperaktif yang dialami anak bisa saja mengarah pada diagnosis ADHD. Meskipun begitu kondisi hiperaktif juga dapat disebabkan oleh kondisi lain seperti hipertiroidisme (kadar hormon tiroid yang berlebihan), gangguan pada otak atau gangguan psikologis.

Apakah yang dimaksud dengan Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)?

Sesuai dengan namanya, ADHD terdiri dari dua kumpulan gejala, yaitu gejala gangguan pemusatan perhatian (inatensi) dan gejala gangguan hiperaktivitas. Gangguan ADHD dapat dibagi menjadi tiga subtipe berdasarkan gejala yang muncul yaitu:

  1. Dominan inatensi (ADHD-I) 
  2. Dominan hiperaktif-impulsif (ADHD-H) 
  3. Kombinasi (ADHD-C)

Selain menunjukkan gejala-gejala yang disebutkan di atas, hal-hal yang disebutkan ini juga harus dipenuhi:

  1. Beberapa gejala inatensi dan/atau gejala hiperaktif-impulsif timbul pada saat usia anak dibawah 12 tahun
  2. Beberapa gejala timbul pada minimal dua kondisi atau situasi, seperti contohnya di rumah, di sekolah atau di tempat kerja, saat bersama keluarga, saat bersama teman atau rekan kerja
  3. Gejala-gejala tersebut harus menimbulkan gangguan pada interaksi sosial, pekerjaan atau akademis
  4. Gejala-gejala yang timbul bukan disebabkan oleh gangguan perilaku lainnya

Perbedaan Kondisi Hiperaktif dan ADHD

Kondisi hiperaktif merupakan kumpulan gejala-gejala yang dapat mengarah pada gangguan ADHD subtipe hiperaktif-impulsif atau tipe kombinasi, namun perlu diingat bahwa terdapat kriteria-kriteria yang perlu dipenuhi. 

Jadi apabila kondisi hiperaktif sang anak tidak menyebabkan gangguan pada interaksi sosial, akademis atau pekerjaan serta bukan disebabkan oleh gangguan perilaku lainnya, maka orang tua jangan lansung mengambil kesimpulan bahwa anak menderita ADHD. Bisa saja perilaku hiperaktif tersebut akan menurun seiring dengan bertambahnya usia anak dan tidak berlanjut menjadi ADHD.

Selalu catat tumbuh kembang anak anda untuk mengetahui gejala gangguan yang terjadi pada anak di Carevo.

  1. Magnus, W., Nazir, S., Anilkumar, A. C., & Shaban, K. (2020). Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). In StatPearls. StatPearls Publishing.   
  2. Parten, M. B. (1932). Social participation among pre-school children. The Journal of Abnormal and Social Psychology27(3), 243–269. https://doi.org/10.1037/h0074524
  3. Primadhani. (2015). Attention Deficit Hyperactivity Disorder: Diagnosis dan Pendekatan Holistik. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.
  4. Zentall, S. S. (1980). Behavioral comparisons of hyperactive and normally active children in natural settings. Journal of Abnormal Child Psychology8(1), 93–109. 

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :