Beranda > Artikel > Ketahui Penyebab Katarak

Ketahui Penyebab Katarak

Ketahui Penyebab Katarak

Pernahkah ketika Anda bercermin kemudian Anda melihat bola mata Anda tampak memutih di bagian tengahnya? Atau pernahkah Anda memperhatikan bola mata orang terdekat Anda memiliki perubahan pada lensa matanya seperti tampak lebih keruh? Jika iya, bisa jadi itu adalah gejala Anda dan keluarga terdekat Anda mengalami katarak. Tahukah Anda sebanyak 2,2 miliar penduduk bumi mengalami gangguan penglihatan? Setengah dari total 2,2 miliar penduduk tersebut mengalami gangguan penglihatan dan disertai risiko kebutaan. Kebanyakan penderita berusia diatas 50 tahun, meskipun pada usia lainnya juga bisa mengalami katarak.

Selain pada orang dewasa, katarak pun juga bisa dialami oleh anak. Katarak yang dialami oleh anak disebut congenital cataract / katarak kongenital.

 

Apakah katarak itu?

Katarak adalah penyakit yang menyerang lensa mata. Lensa mata adalah bagian jernih yang menjadi struktur atau bagian bola mata. Untuk lebih mudahnya, Anda dapat membayangkan lensa pada kamera, nah fungsi dan bentuk dari lensa mata kurang lebih seperti lensa kamera tersebut, berbentuk bulat, agak cembung, dan transparan. Lensa mata ini sendiri berfungsi untuk menyaring masuknya cahaya yang ditangkap oleh bola mata kita.

Katarak bisa muncul karena protein yang ada di dalam lensa mata mulai mengaburkan kejernihan lensa mata. Perjalanannya juga perlahan dimulai dari zona yang terlibat berukuran kecil, namun lama kelamaan akan menjadi semakin besar sehingga memunculkan gangguan penglihatan.

Struktur anatomi bola mata
Struktur anatomi bola mata

 

Faktor-faktor yang menyebabkan katarak

Katarak pada seseorang bisa tercetus atau disebabkan oleh karena berbagai faktor risiko. Ada yang dipengaruhi oleh gaya hidup, kemudian dipengaruhi oleh riwayat konsumsi obat-obatan, maupun adanya riwayat penyakit sebelumnya. Berikut ini adalah faktor risikonya:

  1. Riwayat kencing manis
  2. Penggunaan obat-obatan jangka panjang seperti kortikosteroid
  3. Obat skizofrenia dan gangguan bipolar.
  4. Riwayat rudapaksa (trauma) pada bola mata
  5. Riwayat paparan radiasi (pada penderita kanker yang menjalani radioterapi)
  6. Pada faktor gaya hidup, merokok, paparan sinar matahari bisa menjadi faktor risiko terjadinya pembentukan katarak.
  7. Usia diatas 40 tahun. Pada kasus katarak yang dipengaruhi oleh usia kejadian katarak tersering terjadi pada kelompok usia diatas 40 tahun.

 

Proses perjalanan penyakit katarak

Katarak menjadi salah satu penyakit yang paling mudah dijumpai, karena penderitanya cukup banyak, bisa dari anak hingga orang dewasa sekalipun. Lensa mata manusia tersusun oleh lapisan serat yang menyatu dan membentuk seperti struktur membran, yang disebut kapsul lensa. Pada tingkatan sel, lensa mata terdiri dari dua jenis yaitu lapisan korteks dan nukleus.

Dalam kasus penyakit katarak, proses degeneratif menyebabkan lensa mengalami perubahan sifat. Perubahan sifat yang terjadi menyebabkan kandungan protein dari lapisan lensa yang sudah tua (nukleus) meluruh. Sehingga dari yang memiliki penampakan jernih, tampak akan mengeruh. Kondisi peluruhan protein disebut sebagai formasi katarak.

 

Gejala-gejala katarak

Pada awal perjalanan penyakit ini, katarak belum memunculkan gejala, sehingga biasanya orang tidak banyak menyadari bahwa di dalam lensa matanya sudah terdapat kekeruhan lensa mata. Umumnya penderita katarak akan datang ke dokter mata ketika mulai muncul gejala, seperti:

  • Pandangan mengabur, meskipun sebelumnya sudah pernah memakai kacamata
  • Ketika melihat cahaya yang terlalu silau, Anda seperti melihat pendaran cahaya
  • Ketika malam hari, semakin sulit melihat jelas
  • Saat melihat, Anda merasa seperti melihat ganda
  • Sulit membedakan warna

Gejala-gejala tersebut belum tentu semua orang merasakan keluhan gejala yang sama, mungkin juga ada yang merasakan gejala yang lebih dari satu.

Katarak hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab kebutaan yang paling banyak diderita di dunia, khususnya bagi mereka yang sudah berusia lanjut. Kewaspadaan dan perhatian dari orang terdekat menjadi sesuatu hal yang penting, bagi keselamatan mata seseorang. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter mata bagi mereka yang sudah berusia diatas 40 tahun ke atas atau mereka yang memiliki faktor risiko lainnya.

Baca juga: Penanganan Mata Katarak

 

Daftar Pustaka

  1. Blindness and vision impairment. WHO. 2021. Diakses dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/blindness-and-visual-impairment. Pada: 2022, 14 Maret.
  2. Cataracts. John Hopkins Medicine. Diakses dari: https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/cataracts. Pada: 2022, 14 Maret.
  3. Cataracts. Cleveland Clinic. Diakses dari: https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8589-cataracts. Pada: 2022, 14 Maret.
  4. Nizami, A., Gulani A. Cataract. NCBI. Agustus 2021. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539699/. Pada: 2022, 14 Maret.

 

Daftar Pustaka Gambar

  1. https://my.clevelandclinic.org/-/scassets/images/org/health/articles/4651-2077.ashx

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :

Seluruh kegiatan di tubuh manusia diatur oleh otak. Untuk dapat melakukan fungsinya, otak harus dapat menangkap signal-signal dari luar maupun dalam tubuh. apabila sudah tertangkap oleh otak, maka syaraf-syaraf otak akan bekerja untuk memproses signal-signal tersebut. Apabila terjadi kerusakan pada sistem syaraf, maka otak tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan dapat berdampak terhadap kualitas kehidupan anda. Beberapa kondisi medis seperti contohnya diabetes dapat merusak sistem syaraf anda, oleh sebab itu diperlukan perhatian khusus bagi anda yang memiliki penyakit ini untuk melakukan hal-hal yang menunjang kesehatan syaraf otak. Beberapa cara mudah yang dapat anda lakukan adalah modifikasi gaya hidup sehat, berolahraga, dan beberapa hal lainnya yang harus anda simak.

Bagaimana cara memperbaiki syaraf otak yang rusak?

1. Bernapas dalam

Terkesan sederhana, namun ternyata bernapas secara dalam merupakan teknik efektif untuk memperbaiki syaraf otak anda yang telah rusak. Bernapas dalam dapat membuat anda lebih relaks dan mengurangi stress, serta membawa kadar oksigen yang lebih banyak ke otak. (1)

2. Beraktivitas di luar ruangan

Memperbanyak aktivitas di luar ruangan dapat membantu memperbaiki syaraf otak anda yang rusak. Dengan paparan sinar matahari yang cukup, tubuh anda akan mendapatkan asupan vitamin D yang cukup pula. Penelitian menyatakan bahwa paparan sinar matahari dapat menunjang kerja sistem syaraf otak dan meningkatkan hormon serotonin yang berfungsi untuk menghantarkan pesan antar sel dalam otak, dan hormon yang berperan penting untuk memperbaiki kualitas mood anda. (2)

3. Meditasi dan yoga

Pikiran yang relaks dan otak yang tenang merupakan salah satu teknik ampuh untuk syaraf yang sehat. Yoga dan meditasi bisa anda lakukan secara rutin untuk memperkuat syaraf otak anda. Elemen-elemen gerakan yang dilakukan saat yoga, termasuk meditasi dan teknik pernapasan dapat memperbaiki syaraf otak anda dari kerusakkan. (1,3)

4. Makan makanan untuk otak anda

Beberapa makanan yang khususnya bermanfaat bagi kesehatan otak seperti kacang-kacangan, ikan laut yang kaya omega-3, sayuran hijau, dan buah beri khususnya bluberi dapat anda konsumsi secara rutin apabila menginginkan syaraf otak yang sehat. (4)

5. Teh hijau

Penelitian mengemukakan bahwa rutin mengkonsumsi teh hijau dapat membantu memperbaiki syaraf otak anda karena teh hijau mengandung L-theanine yang merupakan asam amino yang dapat meningkatkan level hormon serotonin dan dopamin anda. Alhasil, mood anda akan lebih teratur dan stress anda dapat berkurang. Selain itu, teh hijau juga mengandung kafein dan antioksidan yang dapat meningkatkan fokus anda dan menangkal radikal bebas penyebab penyakit kronis, seperti Alzheimer dan Parkinson. (4,5)

6. Olahraga teratur

Tahukah anda bahwa dengan berolahraga teratur seperti berjalan kaki, berlari, berenang, maupun bersepeda dapat berkontribusi untuk memperbaiki syaraf otak anda? Menjadi aktif secara fisik dapat mempertajam memori dan proses berpikir anda karena berolahraga dapat merangsang otak anda untuk memproduksi hormon endorphin yang bisa membuat anda merasa bahagia dan lebih mudah berkonsentrasi. (6)

7. Hindari kebiasaan buruk

Kebiasaan buruk seperti merokok dan alkohol tanpa anda sadari dapat merusak syaraf otak anda. Penelitian mengemukakan bahwa rokok memiliki pengaruh negatif terhadap intregitas otak dan orang yang merokok dapat mengalami kehilangan volume otak yang lebih cepat dibandingkan non-perokok. Di sisi lain, minum alkohol berlebihan dapat mencetuskan depresi dan ansietas, hingga kerusakkan sel otak yang lebih cepat. (7,8)

8. Suplemen magnesium

Magnesium merupakan mineral yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan sistem syaraf otak. Kekurangan magnesium dapat berakibat menghambat sel otak anda untuk menjalankan fungsinya. Selain itu, supplemen magnesium dapat merangsang otak anda untuk memproduksi serotonin yang dapat merelaksasi sistem syaraf pusat dan meningkatkan mood anda. (9)

Otak merupakan organ vital yang harus anda jaga kesehatannya, karena merupakan “master-mind” dari seluruh sistem organ tubuh anda. Cara-cara berikut merupakan berbagai upaya yang anda bisa lakukan untuk terus menjaga kesehatan otak maupun memperbaiki syaraf otak yang telah rusak.

Selalu jaga kesehatan anda, rutin periksa kesehatan dan simpan riwayat maupun catatan kesehatan anda di aplikasi Personal Health Record dari Carevo (https://www.carevo.id/personal-health-record/).

Referensi

  1. Zaccaro A, Piarulli A, Laurino M, Garbella E, Menicucci D, Neri B, Gernignani A. How-breah control can change your life: a systematic review on psycho-physiological correlates of slow breathing. Front. Hum Neurosci. 2016; 12: 353. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6137615/
  2. Kent ST, McClure LA, Crosson WL, Amett DK, Wadley V, Sathiakumar n. Effect of sunlight exposure on cognitive function among depressed and non-depressed participant: a REDARDS cross-sectional study. Enciron Health. 2009; 8: 34. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2728098/
  3. Gothe NP, Khan I, Haves J, Erienbach E, Damoiseaux JS. Yoga effects on brain health: a systematic review of the current literature. Brain Plast. 2019. 5(1): 105-122. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6971819/
  4. Pinillia FG. Brain foodL the effects of nutrients on brain function. Nat Rev Neurosci. 2008; 9(7): 568-78. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2805706/
  5. Mancini E, Beglinger C, Drewe J, Zanchi D, Lang UE, Borgwardt S. Green tea effects on cognition, mood and human brain function: a systematic review. Phytomedicine. 2017; 34: 26-37. Diakses dari: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28899506/
  6. Liegro CMD, Schiera G, Proia P, Liegro ID. Physical activity and brain health. Genes (Basel0. 2019. 10(9): 720. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6770965/
  7. Mewton L, Lees B, Rao RT. Lifetime perspective on alcohol and brain health. BMJ. 2020; 371. Diakses dari: https://www.bmj.com/content/371/bmj.m4691
  8. Prochaska JJ, Das S, Wolff KCY. Smoking, mental illness, and public health. Annu Rev Public Health. 2018. 38; 165-85. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5788573/
  9. Kirklans AE, Sarlo GL, Holton KF. The role of magnesium in neurological disorder. Nutrients. 2018; 10(6): 730. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6024559/

We will contact you shortly

Thank you for contacting the Carevo team, our team will

immediately contact you with related topics