Beranda > Artikel > 7 Manfaat Kembang Kol untuk Kesehatan Anda

7 Manfaat Kembang Kol untuk Kesehatan Anda

manfaat kembang kol untuk kesehatan

Walau terlihat tidak menarik, namun tahukah anda bahwa kembang kol memiliki segudang manfaat kesehatan? Memiliki bentuk seperti brokoli, kembang kol sering kali dikenal sebagai “saudara” dari brokoli. Kembang kol memiliki nutrisi yang tidak kalah banyak dari brokoli, namun tetap rendah kalori. Oleh karena itu, sangat cocok bagi anda yang sedang diet, namun tetap mendapatkan nutrisi yang cukup.

Dilansir dari United States Department of Agriculture (USDA), dalam 100 gram kembang kol memiliki nilai gizi sebagai berikut(1):

  • Kalori              : 25 kalori
  • Lemak             : 0 gram
  • Karbohidrat    : 5 gram
  • Serat pangan   : 2 gram
  • Gula                : 2 gram
  • Protein            : 2 gram
  • Sodium           : 30 miligram

Sedangkan untuk kandungan vitamin dan nutrisinya, kembang kol memiliki:

  • Vitamin C       : 80%
  • Zat besi           : 2%
  • Vitamin B6     : 10%
  • Magnesium     : 3%
  • Kalsium          : 2%
  • Vitamin D       : 0%
  • Kobalamin      : 0%

Selain berbagai kandungan nutrisi diatas, ternyata kembang kol masih memiliki banyak manfaat lain yang menarik! Berikut manfaatnya:

1. Mengontrol berat badan ideal

Sayuran ini merupakan pilihan yang tepat bagi anda pejuang diet. Dalam 100 gram kembang kol, 92 gram isinya adalah air, yang baik untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh anda. Selain itu, kandungan serat yang sangat tinggi dalam kembang kol menjadikan sayuran ini cocok untuk dikonsumsi selagi diet. (1)

2. Kaya akan antioksidan

Kembang kol memiliki antioksidan glukosinolat, isotiosianat, karotenoid, dan flavonoid yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan mengurangi inflamasi di dalam tubuh. Selain senyawa-senyawa tersebut, kembang kol juga memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Vitamin C merupakan antioksidan yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh dan mencegah terjadinya penyakit kronik. (2)

3. Anti-kanker

Glukosinolat dan isotiosianat merupakan dua antioksidan yang sangat berpengaruh sebagai anti-kanker. Di lansir dari PubMed Central, kedua antioksidan tersebut dapat menurunkan resiko kanker usus, paru-paru, payudara, dan prostat. Tidak hanya kedua antioksidan tersebut, kembang kol juga kaya akan sulforafan yang merupakan senyawa yang bekerja untuk melindungi kerusakkan DNA dan mengaktivasi zat karsinogen. (4)

4. Menjaga kesehatan jantung

Sulforafan, selain untuk melindungi kerusakkan DNA, diteliti juga dapat mengurangi stress oksidatif yang merupakan penyebab utama kerusakkan jantung. Sulforafan dapat mengurangi inflamasi yang disebabkan oleh stress oksidatif, sehingga dapat memelihara kesehatan jantung anda. Selain itu, kembang kol juga dapat mengurangi kadar kolesterol dalam darah dan mengontrol tekanan darah. (5)

5. Kembang kol sebagai Mood-booster

Apabila dibaca sekilas, mungkin anda bingung bagaimana cara kembang kol menstabilkan mood. Namun, ternyata kandungan kolin yang ada di dalam kembang kol dapat membuat mood anda lebih stabil. Tidak hanya itu, anda juga dapat lebih fokus dalam bekerja dan meningkatkan daya ingatan. Kolin berfungsi sebagai building block dari asetilkolin, yakni senyawa kimia yang berfungsi untuk memberi signal pada sistem saraf pusat. (6)

6. Menstabilkan hormon

Indol-3-karbinol (I3C) yang terkandung pada kembang kol bekerja untuk menstabilkan hormon estrogen pada tubuh. I3C juga diteliti dapat mengurangi resiko kanker payudara. (4)

7. Menguatkan sistem imun

Kaya akan air, serat, dan sulfur menjadikan kembang kol sayuran yang tepat untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan yang berhubungan dengan sistem imun. Sulfur yang terdapat dalam kembang kol memiliki potensi untuk memproduksi senyawa glutation yang berfungsi untuk mempertahankan integritas dinding usus agar lebih kuat dan tidak mudah terserang infeksi. (7)

 

Berikut manfaat yang bisa anda dapatkan dari mengkonsumsi kembang kol. Tidak hanya mudah di dapat, namun dengan pengolahan yang tepat, kembang kol juga bisa menjadi sajian yang lezat dengan nutrisi yang telah terbukti bermanfaat untuk kesehatan tubuh.

Selalu jaga kesehatan anda, dan catat gejalanya dengan aplikasi Personal Health Record dari Carevo di https://www.carevo.id/personal-health-record/

 

Referensi:

  1. US Department of Agriculture. Cauliflower, raw. 2018. Diakses dari: https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/food-details/1103345/nutrients
  2. Ahmed FA, Ali RF. Bioactive compounds and antioxidant activity of fresh and processed white cauliflower. Biomed Red Int. 2013; 2013: 367819. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3793502/
  3. Salem AA, Alloush A, Mohammed FF. Nutritional impact of cauliflower and broccoli against development of early vascular lesions induced by animal fat diet. Life Science Journal. 10(4):2496-509. Diakses dari: https://www.researchgate.net/publication/270592121_Nutritional_Impact_of_Cauliflower_and_Broccoli_against_Development_of_Early_Vascular_Lesions_Induced_by_Animal_Fat_Diet_Biochemical_and_immunohistochemical_studies_Nutritional_Impact_of_Cauliflower_an
  4. Higdon JV, Delage B, Williams DE, Dashwood RH. Cruciferous vegetables and human cancer risk: epidemiologic evidence and mechanistic basis. Pharmacol Res. 2007; 55(3):224-36. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2737735/
  5. Jiang Y, Wu SH, Shu XQ, Xiang YB, Ji BT, Milne GL, Cai Q, et al. Cruciferous vegetable intake is inversely correlated with circulating levels of proinflammatory makers in women. J Acad Nutr Diet. 2014: 114(5):700-8. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4063312/
  6. Brookie KL, Best GI, Conner TS. Intake of raw fruit and vegetables is associated with better mental health than intake of processed fruits and vegetables. Front Psychol. 2018; 9: 487. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5902672/
  7. Doleman JF, Grisar K, Liedekerke LV, Saha S, Roe M, Tapp H, Mithen RF. The contribution of alliaceous and cruciferous vegetables to dietary sulphur intake. Food Chem. 2017. 234: 38-45. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5460521/

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :