Beranda > Artikel > Mari Mengenal Apa itu Diagnosa Potensial

Mari Mengenal Apa itu Diagnosa Potensial

diagnosa potensial adalah

Seorang dokter menggunakan diagnosis banding/diagnosis potensial untuk membedakan antara dua atau lebih penyakit yang dapat menyebabkan gejala seseorang. Seorang dokter mungkin memiliki lebih dari satu teori tentang sumber gejala seseorang saat menegakkan diagnosis. Mereka kemudian dapat melakukan pengujian/pemeriksaan lanjutan untuk menguatkan kecurigaan mereka.

Namun, dalam banyak kasus, tidak ada satu pun tes ilmiah yang dapat secara pasti menunjukkan asal usul gejala seseorang. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa banyak gangguan memiliki gejala yang sama atau serupa, dan beberapa memanifestasikan dirinya dalam berbagai cara. Seorang dokter mungkin perlu menggunakan prosedur yang dikenal sebagai diagnosis banding untuk membuat diagnosis.

Definisi lainnya dari diagnosis banding adalah membuat daftar kemungkinan kondisi yang dapat menyebabkan gejala seseorang. Dokter akan menyusun daftar ini menggunakan data dari sumber berikut:

  • riwayat medis pasien, termasuk gejala yang dilaporkan sendiri
  • hasil pemeriksaan fisik
  • pemeriksaan diagnostik

Banyak penyakit, bagaimanapun, menunjukkan beberapa gejala yang serupa. Hal ini membuat pendekatan diagnostik merupakan hal yang sulit untuk mendiagnosis penyakit yang mendasarinya. Ketika ada beberapa penyebab potensial untuk dievaluasi, pendekatan diagnostik diferensial bermanfaat.

 

Apa saja langkah-langkahnya?

Bagi seorang dokter untuk menentukan diagnosis yang benar, mereka akan mengikuti langkah-langkah di bawah ini.

1. Mengambil riwayat medis

Riwayat medis dapat diperoleh dengan wawancara medis oleh dokter terhadap pasien maupun keluarga pasien. Komunikasi yang efektif, keterampilan mendengarkan secara aktif, dan komunikasi yang disesuaikan dengan kebutuhan, nilai, dan preferensi pasien semuanya diperlukan selama proses memperoleh riwayat klinis dan mewawancarai pasien. Dalam beberapa keadaan, memperoleh riwayat bisa sulit: Misalnya, saat bekerja dengan lansia, anak-anak, atau mereka yang memiliki masalah kesehatan yang menghalangi mereka untuk berkomunikasi atau melaporkan diri secara akurat. Dalam situasi tertentu, anggota keluarga atau pengasuh mungkin diminta untuk berpartisipasi dalam proses anamnesis. Kooperasi dari pihak pasien maupun keluarga pasien dalam memberikan informasi yang jujur dan terpecaya sangat berperan penting dalam kelancaran tahap ini.

2. Melakukan pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik adalah penilaian langsung terhadap pasien. Pertama, seorang dokter melihat sikap, corak, postur, tingkat kesusahan pasien, dan sinyal lain yang dapat membantu mereka mencari tahu apa yang salah dengan mereka. Temuan ini dapat dibandingkan dengan interaksi masa lalu dengan pasien jika dokter telah melihat pasien sebelumnya. Pemeriksaan fisik dapat mencakup pemeriksaan berbagai area tubuh, tidak hanya yang dianggap terlibat dalam keluhan pasien saat ini. Pemeriksaan fisik yang menyeluruh dapat membantu dokter dalam menyempurnakan tahapan berikut dalam proses diagnostik, menghindari tes diagnostik yang berlebihan, dan menumbuhkan kepercayaan pasien. Tidak ada daftar periksa pemeriksaan fisik yang diterima secara global; namun demikian, ada banyak versi yang tersedia secara online dan di buku teks. Kooperasi pasien dalam mengikuti instruksi dokter dengan baik dapat membantu kelancaran tahap ini.

3. Lakukan pengujian diagnostik

Dokter mungkin memiliki beberapa ide tentang apa yang menyebabkan gejala seseorang setelah mengambil riwayat medis dan menyelesaikan pemeriksaan fisik. Untuk mengesampingkan kondisi tertentu, mereka mungkin meresepkan satu atau lebih tes diagnostik. Tes darah adalah salah satu contoh tes tersebut, selain itu dapat pula dilakukan tes Urinalisis, dan tes pencitraan diagnostik seperti pemindaian ultrasound, sinar-X, pemindaian MRI, dan pemindaian CT atau endoskopi

4. Rujuk orang tersebut ke seseorang yang dapat membantu mereka dengan rujukan atau konsultasi

Dalam situasi yang jarang terjadi, dokter mungkin percaya bahwa mereka tidak memiliki kompetensi yang diperlukan untuk menentukan sumber sebenarnya dari gejala pasien. Mereka dapat merujuk orang tersebut ke spesialis untuk mendapatkan pendapat kedua dalam keadaan seperti itu.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Diagnosa? Seberapa Pentingnya Hal Ini?

 

Referensi

Barrows HS, Norman GR, Neufeld VR, Feightner JW. The clinical reasoning of randomly selected physicians in general medical practice. Clinical & Investigative Medicine. 1982;5(1):49–55.

Committee on Diagnostic Error in Health Care; Board on Health Care Services; Institute of Medicine; The National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine; Balogh EP, Miller BT, Ball JR, editors. Improving Diagnosis in Health Care. Washington (DC): National Academies Press (US); 2015 Dec 29. 2, The Diagnostic Process. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK338593/

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :

We will contact you shortly

Thank you for contacting the Carevo team, our team will

immediately contact you with related topics