Beranda > Artikel > Pahami Perbedaan Diare dan Muntaber Agar Dapat Menanganinya Dengan Tepat

Pahami Perbedaan Diare dan Muntaber Agar Dapat Menanganinya Dengan Tepat

Muntaber merupakan infeksi saluran cerna yang biasa disebut sebagai gastreoenteritis dalam bidang medis. Gejala dari penyakit ini antara lain nyeri/kram perut, mual dan muntah, serta diare. Penyakit ini seringkali disamakan dengan diare karena memberikan gejala yang serupa. Padahal pada dasarnya secara definisi diare dan muntaber itu berbeda loh! Memahami perbedaan diare dan muntaber sangatlah penting. Kegagalan dalam membedakan keduanya dapat mengakibatkan kesalahan pengobatan dan memperburuk gejala atau bahkan menimbulkan komplikasi. Untuk itu, mari kita simak beberapa penjelasan berikut ini.

Diare

Diare merupakan sebuah gejala gangguan saluran pencernaan yang didefinisikan sebagai perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai cair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali atau lebih dalam sehari. Diare dapat disebabkan oleh banyak hal seperti terjadinya infeksi maupun non infeksi seperti: alergi, malabsorbsi (gangguan penyerapan), efek samping obat, dan keracunan zat. Diare umumnya hanya melibatkan saluran cerna bawah seperti usus, berbeda dengan muntaber umumnya melibatkan seluruh saluran cerna termasuk bagian atas yaitu lambung. Dalam hal penanganannya, diare yang tidak disebabkan oleh infeksi umumnya hanya membutuhkan pengaturan pola makan yang sesuai serta pemenuhan cairan dan terapi spesifik terhadap penyebabnya.

Muntaber

Muntaber, seperti yang sudah dijelaskan diatas, merupakan sebuah penyakit akibat infeksi saluran cerna yang membuat usus bengkak sehingga menimbulkan nyeri/kram serta gangguan penyerapan nutrisi dan diare. Perlu diperhatikan bahwa sumber utama penyebab penyakit ini adalah infeksi yang dapat terjadi dari virus, bakteri, parasit, maupun jamur. Untuk itu cara yang ampuh untuk mengatasi penyakit ini adalah dengan membasmi agen penyebab infeksi yang sesuai. Antibiotik hanya diberikan pada muntaber akibat bakteri yang umumnya ditandai dengan demam, diare dengan tinja sedikit >10 kali per hari, tinja bercampur dengan lendir dan darah, , mual dan muntah, serta nyeri/kram perut. Muntaber yang disebabkan oleh virus biasanya akan membaik dalam 3-4 hari tanpa pemberian antivirus, gejalanya antara lain buang air besar yang menyemprot, tinja berbau asam, nyeri perut, demam ringan, serta sering kali disertai iritasi area dubur. Muntaber akibat parasit seringkali memiliki gejala yang mirip dengan yang disebabkan oleh bakteri namun frekuensi diare lebih sedikit (sekitar 6-8 kali per hari) dan tinja tampak berwarna lebih gelap dan berbau busuk. Muntaber akibat infeksi jamur umumnya hanya terjadi pada orang dengan gangguan imunitas seperti pada penyandang HIV/AIDS maupun lansia.

Dengan kata lain, dari penjelasan-penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa muntaber adalah nama penyakit sedangkan diare adalah sebuah gejala. Diare dapat disebabkan oleh penyakit muntaber dan merupakan bagian dari penyakit tersebut, bukan sebaliknya!

Perlu diperhatikan bahwa obat-obat antidiare yang sering dijual dipasaran umumnya mengandung bahan yang berfungsi untuk memperlambat gerak usus (contoh: attapulgite dan loperamide). Obat-obatan tersebut hanya dapat berfungsi dengan baik serta memperingan gejala pada beberapa jenis diare yang bukan akibat infeksi. Namun, umumnya tidak terlalu bermanfaat atau bahkan dapat membahayakan bila diberikan pada penyakit muntaber akibat infeksi bakteri terutama dengan gejala kembung. Perut yang kembung menandakan bahwa terdapat produksi gas yang berlebihan serta terganggunya aliran saluran cerna sehingga udara terakumulasi dalam usus. Pemberian obat yang bersifat memperlambat gerak usus dapat membuat usus semakin kembung dan memperburuk gejala. Demikianlah perbedaan antara diare dan muntaber agar Anda tidak salah dalam menanganinya!

 

Sumber

  • Florez, I., Niño-Serna, L., & Beltrán-Arroyave, C. (2020). Acute Infectious Diarrhea and Gastroenteritis in Children. Current Infectious Disease Reports22(2). doi: 10.1007/s11908-020-0713-6
  • Sadowski, D., Camilleri, M., Chey, W., Leontiadis, G., Marshall, J., & Shaffer, E. et al. (2020). Canadian Association of Gastroenterology Clinical Practice Guideline on the Management of Bile Acid Diarrhea. Clinical Gastroenterology And Hepatology18(1), 24-41.e1. doi: 10.1016/j.cgh.2019.08.062

Bagikan ke orang terdekat anda

Baca juga :